Langsung ke konten utama

Mentiko Betuah: Hadiah Ajaib dari Raja Ular

Pada zaman dulu, ada sebuah negeri bernama Semeulue. Negeri itu memiliki seorang raja yang kaya dan dermawan. Karena itu, raja pun disukai oleh rakyatnya. Akan tetapi, Raja itu belum mempunyai seorang anak meskipun sudah lama menikah. Padahal raja ingin sekali mempunyai seorang anak untuk mewarisi tahta kerajaan. Akhirnya, raja dan permaisuri pergi ke sebuah sungai yang airnya sangat. Di sana mereka berendam dan bernazar.

Sungai itu tempatnya sangat jauh dan sunyi. Mereka pun membawa bekal yang cukup untuk menyusuri jalan-jalan setapak dan mendaki gunung. Setelah sampai di sungai yang dituju, sang raja dan permaisuri segera berendam dan bernazar selama sehari-semalam. Kemudian, pulang ke istana kembali.

Sekian lama menunggu, kabar baik datang. Permaisuri telah mengandung. Sang raja pun sangat bahagianya. Sembilan bulan kemudian, permaisuri pun melahirkan seorang bayi laki-laki. Sang raja kemudian memberi nama Rohib. Raja pun kemudian menggelar acara syukuran atas kelahiran putranya. Rakyatnya pun diundang semua.

Raja dan permaisuri membesarkan dan mendidik Rohib dengan kasih sayang. Karena sangat menyayangi putra semata wayangnya, Rohib pun dimanjakan oleh kedua orangtuanya. Ketika Rohib semakin dewasa, sang raja pun menitipkan Rohib ke sebuah perguruan untuk belajar. Namun sayangnya, Rohib anak yang kurang pandai. Ia tidak mampu mempelajari apa yang disampaikan oleh gurunya.

Raja pun marah mendengarnya. Lantas ia berkata, "Hai, Rohib! Anak macam apa kamu ini. Sudah disekolahkan malah tidak belajar yang rajin. Pengawal gantung dia!"

Permaisuri yang mendengar perintah raja langsung bersujud dihadapannya dan memohon, "Ampun kanda, Rohib anak satu-satunya. Jangan bunuh dia kanda."

"Baiklah, aku tidak akan menghukum mati Rohib. Tapi dia harus diusir dari istana ini," perintah sang raja.

Permaisuri pun tidak dapat menghalangi perintah sang raja lagi. Ia merasa itu pilihan lebih baik dari pada membunuh anak satu-satunya. Tapi sebelum Rohib di usir, permaisuri meminta sang raja untuk memberi anaknya bekal berupa uang.

Usulan permaisuri diterima sang raja. Tapi ada satu syarat, uang itu harus digunakan untuk berdagang. Jika itu dilanggar Rohib pun akan digantung. Rohib pun bersedia dengan syarat itu. Kemudian, ia pun diusir dari istana.


Setelah keluar dari istana, Rohib pun mulai mengembara. Ketika ia berjumpa dengan anak-anak kampung yang sedang menembak burung dengan ketapel, Rohib mengatakan, "Wahai saudaraku! Mengapa kalian menganiaya burung yang tidak berdosa itu?"

"Siapa kamu berani-berani melarang kami?" tanya seorang anak kampung itu.

"Kamu tidak perlu tahu siapa aku. Jika kalian mau berhenti menganiaya burung itu, akan aku beri uang kalian."

Anak-anak kampung itu pun berdiskusi dan akhirnya menyetujui tawaran Rohib.

Kemudian, Rohib pun memberikan uang kepada mereka. setelah itu, ia pun melanjutkan pengembaraannya. Setelah berjalan cukup jauh, Rohib kembali berjumpa dengan orang-orang yang sedang memukuli seekor ular. Karena tidak tega melihatnya, Rohib pun mempunyai ide yang sama dengan sebelumnya. Ia pun memberikan uang kepada orang-orang itu supaya berhenti memukulinya.

Ia pun kemudian melanjutkan perjalananya lagi. Dalam perjalanan itu, ia sadar bahwa uang perbekalan itu untuk modal berdagang. Namun, uangnya sudah habis ditengah perjalanan karena kasihan dengan binatang. Rohib pun bingung. Kalau ia kembali ke istana pasti mati. Kalau berjalan jauh, ia pun butuh perbekalan yang cukup. Akhirnya, ia memutuskan untu beristirahat di sebuah pohon besar.

Rohib pun menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba ada seekor ular yang menghampirinya. Rohib pun bertambah takut.

Ilustrasi Kisah Mentiko Betuah


"Wahai anak muda! Jangan takut. Aku tidak akan memangsamu," kata seekor ular.

Ketakutan Rohib kini berubah menjadi rasa penasaran. Sebab, ada seekor ular yang bisa bicara dengannya.

"Hai ular! siapa kamu sebenarnya. Kenapa kamu bisa berbicara denganku?" tanya Rohib.

"Aku adalah raja ular di hutan ini. Kamu sendiri siapa? Mengapa kamu bersedih?"

Kemudian Rohib pun menceritakan siapa dirinya dan mengapa dia sampai bersedih. Mendengar cerita itu, raja ular pun mengatakan, "Rahib, kamu memang anak yang baik. Karena kamu telah berjasa melindungi teman-temanku di hutan ini, aku akan memberimu hadiah sebagai tanda terimakasihku."

Raja ular pun memberi Rohib sebuah hadiah ajaib bernama Mentiko Betuah. Hadiah itu dapat mengabulkan permintan Rohib.

"Hebat sekali hadiah ini. Kalau begitu, hadiah ini bisa meredam amarah ayahku," gumam Rohib dalam hati.

Dengan membawa hadiah ajaib itu, Rohib pun berani kembali ke istana menghadap sang ayah. Ketika dalam perjalanan pulang, Rohib pun berpikir untuk meminta uang yang banyak sebagai hasil dari perdagangnya. Ia pun mengucapkannya kepada Mentiko Betuah. Alhasil, Rohib pun mendapat uang yang banyak.

Ketika sampai di istana, Rohib pun langsung menuju sang ayah. Rohib pun bercerita mengenai perdagangannya yang sukses dan menghasilkan banyak uang. Ayahnya pun sangat gembira mendengar cerita itu. Ia pun terbebas dari hukuman gantung dari sang ayah.

Setelah itu, Rohib pun kembali ke kamar pribainya yang dulu. Ia berpikir bagaimana menyembunyikan Mentiko Betuah. Ia pun menemukan cara, yakni menjadikan mentiko betuah sebagai sebuah cincin. Ia pun segara pergi ke tukang emas. Sayangnya tukang emas itu menipunya dan membawa lari Mentiko Betuah.

Karena Rohib bersahabat dengan hewan-hewan, ia kemudian meminta bantuan kepada mereka untuk mencari Mentiko Betuah yang dibawa lari oleh tukang emas itu. Anjing, Kucing, dan Tikus bersedia menolong Rohib. Dengan cepat, mereka pun berhasil menemukan tukang emas itu yang sedang beristirahat di tepi sungai. Tapi, tukang emas itu menaruh Mentiko Betuah di dalam mulutnya.

Si Anjing, Kucing dan Tikus pun berpikir. Ketika tengah malam si tukang emas tidur, si tikus memasukkan ekornya ke dalam mulut tukang emas. Tukang emas itu pun bersin, sehinga Mentiko Betuah yang ada di mulutnya keluar. Si tikus pun segera mengambil hadiah ajaib itu tanpa sepengetahuan Anjing dan Kucing. Si Tikus mengatakan bahwa Mentiko Betuah telah terjatuh ke dalam sungai.

Pada saat si Anjing dan Kucing mencarinya, si Tikus dengan licik menghadap Rohib. Ia segera mengeluarkan Mentiko Betuah dari mulutnya. Si Anjing dan Kucing yang menghadap Rohib pun merasa bersalah karena tidak mampu menolongnya. Namun Rohib menceritakan bahwa si Tikus telah menemukannya. Si Kucing dan Anjing pun tahu bahwa Si Tikus sangat licik. Merekapun bermusuhan sampai saat ini.

Nah, adik-adik! Dari dongeng ini pelajaran apa yang kamu dapatkan?

KOMEN YA!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Nabi Syu’aib As dan Kaum Madyan

Nabi Syu’aib diutus oleh Allah Swt. untuk berdakwah di negeri Madyan. Penduduk Madyan adalah orang-orang yang menyembah berhala. Mereka membuat banyak patung-patung dan kemudian disembah. Selain itu, kaum Madyan adalah orang-orang yang sangat kaya. Tetapi mereka mendapatkan kekayaannya dengan cara menipu. Kalau mereka menimbang barang yang diperjual-belikan, mereka selalu mengurangi takarannya sehingga orang lain menjadi rugi. Karena itu, Allah Swt. kemudian mengutus Nabi Syu’aib untuk mengingatkan kaumnya, kaum Madyan yang melanggar itu. “Wahai kaumku! Kenapa kamu menyembah patung-patung yang banyak itu. Apa mereka bisa membantu kalian?” tanya Nabi Syu’aib. “Patung-patung itu adalah tuhan kami. Mereka yang telah membantu kami, memberi kami rezeki yang banyak sehingga kami menjadi kaya seperti ini,” jawab mereka. “Kalian salah. Kalian telah tersesat. Coba lihat patung-patung yang kalian sembah itu. Jangankan membantu kalian, mengurus diri sendiri saja mereka tidak mampu. Maka...

Kisah Kejujuran Seorang Pemuda Penggembala Kambing

Pada zaman dahulu, ketika Sayyidina Umar bin Khattab sedang mengadakan perjalanan dari Madinah ke Mekkah. Di tengah perjalanan ia melihat seorang pemuda yang sedang menggembala kambing dalam jumlah yang sangat banyak.   Khalifah Umar lalu mendekati pemuda itu dan mengutarakan niatnya untuk membeli seekor kambing.   “Wahai anak muda! Bolehkah aku membeli seekor kambing yang sedang engkau gembala?” tanya Sayyidina Umar.   “Saya ini hanya seorang budak, Tuan. Saya tidak memiliki kewenangan untuk menjual kambing ini. Semua kambing ini milik majikan saya,” jawab si penggembala dengan jujur.   “Meskipun kambing ini milik majikanmu, kalau saya beli satu pasti majikanmu tidak akan tahu. Nanti kamu ceritakan kepadanya bahwa kambing yang kamu gembala dimakan macan satu ekor,” ujar Sayyidina Umar menguji kejujuran pemuda itu.   Mendengar ajakan itu, pemuda itu memandang Sayyidina Umar sejenak. Si pemuda itu pun berkata, “Apa yang tuan katakan memang benar. Jika kambin...

Seekor Semut dan Cacing Buta

Suatu ketika, Nabi Sulaiman sedang duduk beristirahat di pinggir danau. Di sana, ia melihat seekor semut membawa sebiji gandum ke tepi danau. Tiba-tiba muncul seekor katak dari dalam air dan kemudian membuka mulutnya. Semut itu pun masuk ke dalam mulut katak. Kemudian katak tersebut masuk ke dalam air kembali dengan waktu yang cukup lama.   Melihat peristiwa tersebut, Nabi Sulaiman memikirkannya. Beberapa saat kemudian, katak tersebut muncul ke permukaan dan kembali membuka mulutnya. Semut yang berada di mulut katak lantas keluar. Namun sudah tidak membawa sebiji gandum lagi.   Nabi Sulaiman yang diberi kemukjizatan oleh Allah dapat berbicara dengan binatang, lantas memanggil semut tersebut.   “Hai semut! Apa yang sedang engkau lakukan bersama katak barusan?”   “Wahai Nabi! Sesungguhnya di dasar danau ini terdapat seekor cacing buta yang tinggal di dalam cekungan batu,” jawab semut.   Semut lantas melanjutkan, “Cacing tersebut tidak bisa keluar dari cekunga...

Kisah Sunan Muria dan Dewi Roroyono

Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga. Ia lahir di sebuah daerah dekat lereng Gunung Muria, utara kota Kudus. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Sunan Muria banyak belajar ilmu agama kepada ayahnya. Setelah banyak menimba ilmu, Sunan Muria kemudian ditugaskan oleh ayahnya untuk berdakwah mengajarkan agama Islam di daerah Jepara, Tayu, Juana, Kudus dan Pati.   Sunan Muria lebih senang tinggal di daerah terpencil. Dia adalah orang yang ramah dan gampang bergaul dengan masyarakat. Sunan Muria tidak hanya pandai ilmu agama. Dia juga pandai bercocok tanam, berdagang dan melaut. Banyak warga yang diajari cara bertanam, berdagang dan juga melaut oleh beliau, di samping juga diajari ilmu agama.   Konon, Sunan Muria berguru kepada Sunan Ngerang. Pada suatu waktu, Sunan Muria diundang menghadiri acara syukuran ulang tahun puteri gurunya yang bernama Dewi Roroyono. Setelah para tamu berkumpul, Sunan Ngerang memerintahkan puterinya itu keluar menghidangkan makanan. Orang yang hadir s...

Kisah Sunan Giri dan Begawan Minto Semeru

Sunan Giri merupakan putra Maulana Ishak. Dia juga keponakan Maulana Malik Ibrahim. Nama kecil Sunan Giri adalah Raden Paku atau Muhammad Ainul Yaqin. Sunan Giri lahir di Blambangan (Banyuwangi) pada tahun 1442 Masehi. Sejak kecil Sunan Giri belajar kepada Sunan Ampel. Setelah menimba banyak ilmu, Sunan Giri ditugaskan untuk menyebarkan agama Islam. Sunan Giri kemudian mendirikan pesantren di sebuah daerah perbukitan yang ada di desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit itu disebut ‘Giri’. Itulah sebabnya Raden Paku atau Muhammad Ainul Yaqin dijuluki Sunan Giri. Sunan Giri tidak hanya pandai. Tapi beliau juga memiliki karomah (kekuatan) yang diberikan langsung oleh Allah kepadanya. Konon, setelah mendirikan pesantren, nama Sunan Giri semakin terkenal. Nama Sunan Giri juga didengar oleh Begawan Minto Semeru yang mempunyai Padepokan. Di padepokan itulah Begawan Minto Semeru melatih murid-muridnya dengan ilmu kesaktian. “Aku tidak mau ada menyaingiku. Aku akan pergi m...